Make your own free website on Tripod.com
LINKS
ARCHIVE
« October 2017 »
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31
Thursday, 22 June 2006
259 Gedung Sekolah Hancur dan Rusak dalam Gempa Yogyakarta
Topic: Gempa Jogja Ja-Teng
259 Gedung Sekolah Hancur dan Rusak dalam Gempa Yogyakarta

Sedikitnya, 259 gedung sekolah hancur dan rusak akibat gempa yang melanda wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, Sabtu (27/5) pagi. Rinciannya, 93 gedung sekolah hancur, 116 rusak berat, dan 50 rusak ringan.
Rekapitulasi data sementara sekolah yang rusak akibat gempa Yogyakarta-Jateng itu dikeluarkan Posko Pusat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Senin (29/5) sore. Gedung sekolah hancur dan rusak tersebut berada di Kabupaten Kulonprogro, Gunung Kidul, Bantul, dan Klaten.
Di Bantul yang hancur 51 sekolah, di antaranya dua TK, 40 SD, lima SMP, dua SMA, dan dua gedung SMK. Di Gunung Kidul sekolah yang hancur, rusak berat dan rusak ringan sebanyak 173 buah.
Untuk sekolah yang hancur enam SD dan empat SMP. Sekolah yang rusak berat 100 gedung, yaitu 70 SD, 22 SMP, dua SMA, enam SMK. Sekolah yang rusak ringan 63 gedung, yaitu 20 SD, 23 SMP, delapan SMA, 12 SMK.
Sedangkan, di Klaten yang hancur, rusak berat, dan rusak ringan sebanyak 112 gedung. Yaitu, hancur 40 gedung, dua kantor dinas, 37 SD, satu SMP. Rusak berat 72 gedung, yaitu empat kantor dinas, 54 SD, delapan SMP, dua SMA, dua SMK, dua MI.
Di Kulonprogo, rusak berat dan rusak ringan, 28 gedung. Rusak berat dua SD, empat SMA. Rusak ringan 22 gedung, 10 SD, lima SMP, tujuh SMA.
Sementara itu, sebanyak lima siswa meninggal dunia di Gunung Kidul, dua guru luka beat, dan dua karyawan sekolah luka berat, luka ringan tiga siswa.
Dalam kaitan ini, Sekjen Depdiknas Dodi Nandika mengatakan pihaknya menunggu bantuan dari pihak swasta dan industri untuk membangun kembali sekolah-sekolah yang hancur, rusak berat, dan rusak ringan tersebut.
"Kebijakan kami soal pembangunannya masih seperti kebijakan lama soal fisiknya. Dana yang dicadangkan sebelumnya. Tapi, membuka kesempatan kepada swasta dan kalangan industri untuk membantu," ujarnya di Jakarta, Senin.
Untuk rehab, diperkirakan per SD rata-rata Rp500 juta-Rp600 juta.(media-indonesia)

Posted by mapabelan at 3:42 PM | Post Comment | Permalink
Sunday, 11 June 2006
Ujian Semester Genap
Topic: Ujian Semester
Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 06.00 terjadi gempa yang berskala 5,9 skala Richter yang berpusat di Selatan Pantai Parang Kusuma. Bersamaan dengan gempa itu di Pondok Pabelan sedang akan melaksanakan acara Pembukaan Ujian Lisan Semester Genap. Akibat gempa itu sebagian lantai di asrama Presiden mengalami retak.

Rabu, 7 Juni 2006 Pondok Pabelan melaksanakan acara Pembukaan Ujian Tulis Semester Genap. Pada waktu siswa sedang melaksanakan ujian tulis di kelas hari Kamis, 8 Juni 2006 hujan abu pun terjadi akibat meletusnya Gunung Merapi.

Kejadian yang sedang melanda Pondok Pabelan itu semua tidak mempengaruhi siswa untuk beraktivitas seperti biasanya.

Posted by mapabelan at 9:28 PM | Post Comment | Permalink
Merapi Meletus Lagi .............!!!
Topic: Merapi
Kamis, 8 Juni 2006 Gunung Merapi mengeluarkan awan panasnya pada pukul 09.00 pagi. Awan panas tersebut bergerak ke lereng Gunung Merapi dengan jarak 5 Km dari puncak gunung. Akibat meletusnya Gunung Merapi, terjadilah hujan abu yang menghujani kota Yogyakarta dan kota Magelang. Di Magelang hujan abu itu terjadi sejak pukul 09.30 hingga pukul 14.30 WIB. Lamanya hujan abu tersebut membuat semua permukaan tanah dan genteng rumah menjadi putih tertutup oleh abu. Tebal abu tersebut jika dikumpulkan di dalam gelas Aqua, kira-kira mempunyai tebal ? cm atau 2,5 mm.

Bahaya hujan abu tersebut jika mengenai mata seseorang atau jika tehirup ke dalam paru-paru. Dan lagi jika ada kendaraan bermotor yang berjalan maka abu itu akan berterbangan seperti debu dan bisa membahayakan bagi pejalan kaki yang ada di sekitarnya.

Jum’at, 9 Juni 2006 pukul 11.45 Gunung Merapi meletus lagi. Pada malam harinya, di puncak Gunung Merapi terlihat pancaran api yang berwarna merah seperti lava pijar yang mengalir ke bawah puncak.

Para penduduk di kawasan Merapi yang diperkirakan membahayakan telah diungsikan ke tempat pengungsian. Tapi data dari Dinas Sosial ternyata salah, karena perkiraan Dinas Sosial jumlah pengungsi kurang lebih 13.000 jiwa. Padahal pengungsi yang telah diungsikan sekarang berjumlah kurang lebih 16.000 jiwa. Akhirnya bantuan logistik yang telah disediakan oleh Dinas Sosial mengalami kekurangan akibat jumlah pengungsi tesebut.

Para pengungsi berharap semoga aktivitas Gunung Merapi berhenti, agar mereka bisa kembali menggarap lahan mereka yang ditinggalkannya. Amiin.

Posted by mapabelan at 9:23 PM | Post Comment | Permalink
Monday, 5 June 2006
UNGKAPAN HATI DARI LOKASI BENCANA GEMPA JOGJA JATENG
Topic: Gempa Jogja Ja-Teng

Saya berada di salah satu lokasi korban gempa di daerah Jogja tepatnya di lingkungan Sarang Dusun Kuwon Desa Sidomulyo Kec. Bambanglipuro Kab. Bantul, Jogja.
Lokasi ini berjarak sekitar 7 km dari pantai Parang Tritis, Jogja dan berjarak 31 km dari titik epicentrum gempa. Kecamatan ini paling parah menderita korban jiwa dan kerusakan bangunan fisik. Korban meninggal tercatat kurang lebih 580 jiwa. Sedangkan untuk korban terbanyak meninggal dari tingkat dusun berasal dari dusun Bauran Desa Bauran Kec. Pleret Kab. Bantul, Jogja berjumlah sekitar 60 jiwa.
Berdasarakan dialog yang saya lakukan dengan beberapa warga masyarakat korban pasca gempa, maka kami sangat memerlukan bantuan dan belas kasihan teman – teman dari manapun. Hal ini demi untuk ikut meringankan beban dan penderitaan saudara kita di lokasi gempa.
Karena beberapa keterbatasan maka kami hanya dapat mengirimkan beberapa gambar kondisi merapi dan korban gempa dalam bentuk CD, yang kami alamatkan kepada teman – teman di Jakarta (mbak Izul), TC Muneng (Sdr Yayak) dan TC E-Semeru Sdri Ti’ah
Beberapa kebutuhan yang sangat diperlukan diantaranya :
1. Tenda
2. Selimut
3. Lampu minyak (ting) atau pelita atau lampu badai
4. Lampu Senter dan bateraynya
5. Minyak Tanah
6. Bahan Makan

Kejadian – kejadian tragis lain yang menambah penderitaan:
1. Pasca gempa harga bensin mencapai Rp.15.000,00 – Rp. 25.000,00 per liter di tingkat eceran.
2. Banyak peristiwa pencurian dan penjarahan akibat belum ada pengamanan dari petugas dan kedaan lokasi yang gelap gulita saat malam hari dan diperparah dengan adanya hujan (1 hari 12 motor hilang, barang elektronik juga banyak yang hilang)
3. Banyaknya turis dan warga yang hanya melihat dan mengambil gambar seolah tidak peduli dengan perasaan korban gempa.
4. Adanya bantuan yang masih menumpuk di kabupaten dan hanya disalurkan melalui birokrasi (camat, desa, baru dusun) yang akhirnya menghambat distribusi sampainya bantuan karena tidak boleh diambil lansung oleh penduduk walaupun masyarakat sangat kelaparan.

TOLONGLAH KAMI, BANTULAH KAMI
KAMI TIDAK KUASA MENGATASI PERMASALAHAN INI SENDIRIAN

Terima kasih, semoga Tuhan Yang Maha Esa melipatgandakan pahala atas amal dan bantuan anda

Posted by mapabelan at 8:12 PM | Post Comment | Permalink
Tuesday, 30 May 2006
DUH GUSTI??????????????????.
Topic: Gempa Jogja Ja-Teng

Sabtu 27 Mei merupakan hari yang membuat panik semua penduduk Jogja-jateng, salah satunya aku. Saat itu aku berada di Muntilan Jateng, Ketika Gempa Berguncang Spontan aku keluar dan melihat Merapi yang waktu itu mengeluarkan Lava pijar dan wedus Gembel. Dengan rasa panik aku kembali lagi dan saat itu abu mulai berguguran di daerahku. Sesampainya dirumah aku mendapat telpon dari paman dibantul bahwa rumah semua saudara hancur dan nenek sakit perlu dievakuasi. Saat itu aku berpikir mungkin nanti siang aku akan membawa saudaraku ke Muntilan. Belum berselang lama Ibu berangkat mengajar di Sleman. Sesaat kemudian tetanggaku mengatakan bahwa jogja tidak aman. Waktu itu aku melihat terus-menerus siaran TV. Tapi hanya ada 1kali siaran gempa dan semua Stasiun TV mati semua. Kemudian aku keluar dan melihat warga yang ada dipasar berlari berhamburan dan berteriak ada sunami, airnya sampai di Jombor!!! Karena panik akupun segera berangkat kejogja dengan tujuan utama menyusul ibu. Sesampai di jogja aku disuruh pulang lewat SMS karena katanya ibu dah pulang dan air sudah sampai jombor, dan jalan ditutup. Aku bersyukur ibuku pulang, tapi aku masih perlu kebantul membawa nenek dan saurdaraku. Dengan perasaan campur aduk kupacu kendaraan sekencangnya, dijalan jarang yang berjalan searah kearah bantul, tapi semua berlawanan arah dengan ku sambil berteriak awas ”sunami!!!”, Prek batinku, aku harus ke Bantul apapun resikonya. Sesampai di tempat nenek aku pasrah melihat semua bangunan yang ada luluh lantak dan rata dengan tanah, itu rata untuk semua desa. Kebetulan tempat Nenek berada Di Dusun Sarang, Desa Sidomulyo, Kecamtan Bambang lipuro Bantul.
Kemudian dalam kegalauanku direruntuhan bangunan itu ada tetangga nenek yang memenggilku dan memberitahu bahwa keluargaku selamat, sekarang ada di areal sawah belakang dusun. Mengetahui demikian aku bersyukur dan segera kesana, disana telah berkumpul 600an orang dengan wajah-wajah trauma. Setelah kujumpai mereka yang kebanyakan lansia dan anak-anak, aku segera membantu orang yang luka semampuku, ada yang patah tangan, punggungnya patah, kaki patah, kepala retak dan ada pula yang kepalanya rusak kulit terkelupas semua hingga batok kepalanya kelihatan separuh. Pagi itu pemuda dan bapak-bapak sibuk mencari korban dan memakamkan korban, didusun sarang pagi itu 6orang kami kuburkan, di daerah yang masih 1 pedukuhan ada 6 orang lagi, jadi dalam 1 dusun ada 12 orang yang meninggal tertimbun bagunan pagi itu. Sampai siang aku kemudian bersama pemuda dan bapak-bapak berusaha mencari beras disela reruntuhan akhirnya dapat namun kurang untuk semua penduduk, akhirnya aku mengajak salah seorang pemuda kekota untuk mencari mie, disana ternyata sama dan tak ada yang buka. Dengan perasaan kalut kuberanikan mendekati sebuah toko yang hancur dan ku mohon pada anak pemilik toko yang selamat untuk membeli mie. Akhirnya aku diijinkan untuk membeli dengan catatan mengambil sendiri dibalik reruntuhan toko. Akhirnya aku dapat 2 dus mie dan obat seadanya. Itupun harus mbayar dengan harga biasa, edan batinku, tapi ga papa. Setelah pulang dan kami oleh ternyata masih belum cukup untuk 600an orang. Aku kebingungan lagi, siang itu panas sekali akhirnya semua mantol yang ada pada kendaraan yang selamat aku ambil untuk dijadikan peneduh. Setelah terpasang ternyata juga tidak mencukupi untuk pengungsi sebanyak itu. Saat itu gempa susulan masih saja terjadi. Sore sekitar jam 4 aku beranikan diri mengajak temanku yang polisi ke Kecamatan Kretek yang hanya beberapa meter desa. (perlu diketahui Dusun sarang dan Kuwon merupakan batas paling selatan dari kecamatan bambang lipuro yang langsung berbatasan dengan Kecamatan Kretek). Sesampainya disana aku mohon pada tim PMI untuk memberi bantuan, tapi mereka menolak dengan alasan kurang personil dan bukan wilalayah kerjanya, aku disaran kan ke kecamatan banmbang lipuro.
Dengan marah kubentak dan kukatakan pada patugas itu bahwa PMI bekerja untuk kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah negara, agama, ras dan sebagainya. Karena masing-masing kami masi bersikukuh hampir adufisik terjadi. Untuk didamaikan oleh orang PMI dari jakarta. Mereka juga bercarita baru ditarik dari Merapi dan dari jam 8 di Krerek Jam 14 an baru diakui bekerja oleh camat karena terganjal sistem birokrasi yang Njelei, Nyebeli dan Nyebahi. Setelah berdebat lama akhirnya aku tidak bisa menuntut banyak dan hanya kuminta personil PMI datang untuk mendata yang sakit, 1orang ikut denan ku dan mendata yang sakit. Dari data yang dicatat, 12 meninggal, 6 patah tulang (kaki, tangan, unggung) 39 luka parah dan puluhan luka ringan. Setelah tahu itu PMI pun hanya berjanji menghubugkan dengan PMI lain,
Setelah kutunggu sampai malam tidak satupun ambulan/tim PMI datang, nongol pun tidak padahal jarak barak pengugsi dengan kecamatan kurang dari 1km. Dengan perasaan pasrah akhirnya kami tahan lapar untuk hari itu. Jam 1.30 malam ada sedikit kegembiraan yang mengobati luka kami seharian. Ada beberapa bungkus mie dari saudara saudara yang paduli dari Pakem Jogjakarta. Namun kami bingung lagi, karena ada mie tapi tidak punta alat masak.
Malam itu gempa terjadi lagi dan hujan turun sangat lebat. Kebetulan aku tidak dibarak karena harus memasak dan berjaga kampung. Saat hujan aku hanya bisa pasrah dan menangis karena melihat pengungsi harus berdiri memegang mantol untuk tutup dan membiarkan saja yang luka karena tidak mungkin kigendong semalaman, jika 1orang mungkin kami bergantian, disini puluhan orang jadi kami hanya bisa melihat dan menangis, aku berlindung dikandang sapi yang masih rejek dengan kotorannya, bau menyengat dan perasaan wawas jika kejatuhan kandang. Setelah pagi kulihat beberapa orang sakit terendam di rerumputan hanya saja mereka masih hidup. Aku harus buat apa? Puskesmas tidak dapat digunakan karena ambrol,bangunan mau runtuh dan terjadi gempa lagi. Malam itu merupakan malam yang mencekam, ternyata banyak yang memenfaatkan kesampatan dengan mencuri, pagi itu beberapa barang elektronik kami ketahui hilang seteleh pemilik rumah mengecek barang yang bisa diselamatkan.
Tiga hari 2 malam saya berada disana belum ada bantuan pemerintah, padahal kami kekurangan makanan dan kedingiinan karena hujan masih mengguyur dan selalu terjadi diumalam hari. Di hari ke 3 baru kami dapat bantuan tenda itupun belum cukup untuk 600an orang. Setelah hari itu baru ada beberapa orang mengirim bantuan, tapi ada yang hanya untuk keluarga, jadi kami masih kekurangan. Kemudian aku coba mencari bantuan lewa orang orang desa dan teman dipasar Muntilan untuk menyumbang dan akhirnya dapat dimakan untuk sekitar separuh pengungsi. Baru kemarin (31 Mei 2006) ada beberapa bantuan dari warga yang peduli dan Puskesmas keliling. Sebenarnya banyak cerita yang ingin aku tulis tapi.......... karena aku lelah dan harus bolak balik Bantul-Muntilan untuk menghimpun dana maka mungkin tulisan ini saja yang bisa kutulis.
Ada beberapa pertanyaan sebenarnya yang mengganjal dihati saya.
1. Mengapa bantuan di kabupaten Bantul tidak boleh kami ambil langsung? Padahal kami sangat butuh, Para Pajabat berdalih harus lewat tingkat kecamatan, desa, dan baru pengungsi, kapan sampainya di pengungsi? Apa setelah samua pengungsi mati dan mie serta bantuan dapat ditarik untuk dijual lagi?
2. mengapa bantuan yang berton-ton, berkardus-kardus harus di tumpik dulu di kantor kabupaten?
3. Dimana kerja polisi dan tentara yang katanya dah dikirmke bantul untuk mengamankan? Padahal dalam 1 hari pengungsi di Imogiri saat isu sunami dan gempa kemarin kehilangan 12 sepeda motor, di sarang 1 malam 4 kendaraan dan ditempat kami tiap hari mengejar pencuri yang tidak pernah tertangkap padahal kami telah merelakan membakar kebun tebu untuk menangkapnya. Maka jangan heran jika kami telah berjanji untuk membakar pencuri yang tertangkap atau membuangnya di Kali Opak. Karena meraka tidak mengasihi kami untuk apa kami mengasihi mereka?
4. Apa Pak JK (Jusuf Kala) serius berbicara di depan jutaan rakyat indonesia akan membantu rumah kami (pengungsi) yang roboh sebesar 30 juta? Karena belum genap 1 hari sudah ditimpali salah seorang mentri bahwa hanya 7,5 juta. Itu kan dari pusat sampai desa mungkin Rp.7.500 belum dipotong pajak!
5. masih banyak pertanyaan yang mengganjal, antara lain kenapa pemerintah santai saja melihat pedangang bensin eceran dan dadakan yang menjual 1liter sampai Rp.25 ribu, yang sempat akan saya pukuli, tapi karena saya butuh untuk beli beras dan mie untuk pengungsi (info sekarang SPBU ada yang buka tapi jam 14.30 dah habis diborong Mafia BBM (penjual bensin dadakan) agar meraka dapat untung.
6. Jika kami boleh minta kepada siapa kami harus meminta (karena pemberintah lamban memberi bantuan jika pun ada harus nginep di kabupaten dulu) Tenda/Terpal,slimut, Baterai/senter, lampu pelita (ting) minyak tanah dan beras karena hujan selalu mengguyur tiap malam, pencuri selalu berkeliaran siang dan malam, dan pengungsi trauma karena begitu mendengar suara mobil atau suara agak keras banyak yang berhamburan/ menjerit histeris karena masih trauma.
Bapak/Ibu yang membaca tulisan saya ini, Semua pengunsi khususnya Dusun Sarang Desa Sidomulyo Kecamatan Bambanglipuro Kabupaten Bantul, telah habis waktu bersedih, Kami bagi kesadihan bersama sehingga kami kuat setiap hari kami bisa mengurus pengungsi yang ada di dusun kami 600an orang, untuk apa kami tengok rumah jika hanya kesadihan yang akan terus membayangi masadepan kami, anak-anak kami, sekolah hancur, masjid hancur, sarana irigasi hancur, sampaikapan kami harus meminta dan meminta, kapada siapa kami meminta, setiap orang yang datang hanya minta foto dan gambar kami tanpa peduli perasaan kami, masa depan kami, mereka beralasan untuk kenangan seolah bangga mengenang rumah kami yang hancur, kami bukan kenangan, kami bukan tontonan.
Jika ada manusia yang tersentuh kami mohon salurkan bantuan secara langsung kapada kami di dusun Sarang, Desa Sidomulyo Kec. Bambanglipuro Kab. Bantul, melalui Telecenter e-Pabelan dengan Hardi (081 750 43440) atau dengan menghubungi langsung kepada Bp Suhadi/Bp Sumar (081328552473), atau menghubungi koordinator team relawan dengan Sdr. Hidayatul Muttaqin 081328152740 (penulis dan kontributor informasi kenyataan ini). Kami ucapkan terimakasih untuk yang mau peduli dan mempunyai hati nurani.

Mungkin satu kalimat bisa mewakili cerita saya ini ”MOHON BANTU KAMI, SALURKAN SECARA LANGSUNG, TRIMAKASIH SEBELUMNYA”

Posted by mapabelan at 11:01 PM | Post Comment | View Comments (6421) | Permalink

Newer | Latest | Older